Hampir Gagal Kejar Sunrise di Bukit Sikunir Dieng Gara-gara Dibawa Nyasar GPS

Sekitar 2 tahun yang lalu, sempat heboh berita soal wisatawan Dieng yang nyasar gara-gara mengikuti petunjuk aplikasi peta.

Parahnya, aplikasi penunjuk jalan mengarahkan wisatawan ini ke jalan tanah yang sempit, tidak ada tempat untuk memutar balik. Alhasil, mobil pun didorong mundur ramai-ramai oleh polisi dan warga sekitar.

Saat itu Polres Wonosobo sampai mengeluarkan himbauan agar wisatawan yang hendak menuju Dieng jangan menggunakan GPS, tapi ikuti jalur utama saja.

Nah, akhir tahun kemarin alhamdulillah kami juga diberi kesempatan untuk berkunjung ke Dieng. Nyasar? Oh tentu saja hahaha.

Perjalanan dimulai dari Grafika Cikole, hari Jumat jam 9 malam. Sebagai warga 10 km dari puncak gunung Tangkuban Parahu, titik kumpul di Cikole itu enak sekali. Gak perlu terjebak macet di Lembang dulu hihi…

Briefing terakhir sebelum digaskeun

Saat itu ada sekitar 30 mobil yang beriringan. Sebagai perlengkapan standar touring, masing-masing mobil dibekali radio. Tempat yang menjadi tujuan pertama adalah Bukit Sikunir. Mau kejar sunrise di sana.

Mulai tarik jarum, lambung kanan, belah duren dan kengkawannya. Bismillah…

Dari Cikole kami menuju Subang, masuk ke jalan tol. Sempat berhenti di rest area, rangkaian masih aman.

Tapi keluar dari tol ada 5 rangkaian yang terpisah. Ternyata mobil yang ada di depan kami salah mengambil jalan keluar. Kami keluar di gerbang tol Batang, sementara rombongan yang paling depan keluar di gerbang tol Kandeman. Duh!

Sebagai sweeper, tentu saja tugas suami “menyapu dan menggiring” rangkaian yang terpisah agar kembali ke rangkaian utama.

Bermodalkan shareloc akhirnya kami berhasil kembali ke rangkaian utama yang menunggu di POM Bensin Subah.

Perjalanan pun kembali kami lanjutkan.

Sampai di Wonosobo, rangkaian masih aman.

Tapi entah kenapa, mobil yang ada di depan kami sepertinya linglung dan kehilangan arah. Ditambah lagi memang tidak ada petunjuk arah dari RC (Road Captain) yang terdengar melalui radio. Bisa jadi karena jarak antara mobil RC dengan sweeper terpisah cukup jauh.

Nekat bermodalkan GPS, sweeper yang biasanya posisinya paling belakang mengambil alih komando dan maju ke depan. Ada 2 kendaraan di depan kami saat itu.

GPS mengarahkan kami untuk belok ke sebuah jalan kecil dan menanjak, masuk ke pemukiman penduduk. Agak ragu, tapi si Teteh yang terus ngasih petunjuk di GPS sangat yakin mengarahkan kami masuk ke jalan itu.

Suasana jalan sangat sepi. Mau nanya ke penduduk juga belum nampak satu pun. Maklum, baru jam setengah 4 dini hari.

Sempat berhenti karena ragu. Suasana menjadi agak merinding karena tiba-tiba tercium wangi bunga kemboja. Eh, lho… itu yang ada di depan koq kuburan sih? Huaaa…

Sampai akhirnya ada penduduk yang lewat (dalam hati saya berdoa, semoga saja benar2 penduduk, bukan penghuni lahan yang ada di depan kami).

Tapi sepertinya beliau memang mau ke masjid. Karena sayup-sayup sholawat tahrim mulai terdengar, pertanda Shubuh sebentar lagi tiba.

Kami pun berinisiatif pakai GPS yang jauh lebih akurat alias GUNAKAN PENDUDUK SEKITAR!

Punten, Pak. Upami ka Dieng jalan ka palih dieu tiasa???”, tanya oom Andri yang kebetulan memang single dan jadi driver kami malam itu.

Si bapak nampak bingung.

Laah… Oom. Moal ngartieun meureun ku Sunda mah“, tegur saya sambil tertawa.

Baru sadar kalau kami sedang berada di luar Sunda Empire, Oom Andri mengulang pertanyaannya dalam bahasa Indonesia.

Ternyata… menurut si Bapak, ke Dieng memang bisa lewat jalan sesuai petunjuk GPS. Tapi jalannya masih terjal. Paling cuma motor yang bisa lewat. Si Bapak menyarankan agar kami memutar balik, lalu belok kiri dan ikuti jalan utama.

Hadeuuuhhh… ampun dah. Bisa-bisa kalau terus mengikuti petunjuk GPS, kami pun bernasib sama seperti wisatawan yang nyasar di bulan Desember 2017 yang lalu. Untungnya, masih ada tempat buat putar balik.

Kembali ke jalan utama, ternyata perjalanan masih jauh. RC dan rombongannya tidak terpantau sama sekali. Duh… keburu gak ya sunrise di Bukit Sikunir?

Lalu perlahan radio mulai kemresek, ada suara yang sangat kami kenal di sana. Alif, repeater yang tiap touring mana pun selalu kebagian di tengah rangkaian karena jangkauan radionya yang sangat luas.

Sweeper posisi sudah melewati gapura. Alif poster di mana?”, tanya suami di radio.

Alif baru mau lewat gapura, Oom“, jawab Alif.

Lah… bagaimana ceritanya Alif yang seharusnya di tengah jadi ada di belakang? Sementara sweeper yang seharusnya paling belakang sekarang jadi paling depan? Ini siapa yang nyasar duluan??? Benar-benar membingungkan ahaha

Mengikuti jalan utama, akhirnya kami sampai juga di Bukit Sikunir sekitar jam setengah 6. Langit mulai agak terang. Cuaca saat itu gak terlalu dingin. Aldebaran malah masih kuat gak pakai kupluk.

Setelah parkir, gak pakai lama kami langsung naik ke atas.

Saya pikir tangganya gak terlalu banyak. Tapi ternyata masya Allah… bikin ngos-ngosan! Huhuhu…

Perlu waktu setengah jam mendaki sampai ke atas bukit. Setelah nyaris kehabisan nafas, akhirnya kami sampai juga di puncak Bukit Sikunir.

Ternyata banyak lautan manusia di puncak Bukit Sikunir.

Tapi yang penting sih masih kebagian sunrise. Cihuy…. Alhamdulillah.

Puas

Leave a Reply